The Theory of Social Responsibility, Professionalism & Media Ethics

The Theory of Social Responsibility

Social responsibility theory adalah teori pers yang mengedepankan kebebasan pers yang harus diikuti dengan tanggung jawab sosial. Teori ini muncul ketika pada tahun 1947, muncul kekhawatiran terhadap media-media di Amerika serikat yang pada saat itu yang menganut sistim libertarian. Kehawatiran tersebut muncul ketika The Hutchins Commission of Freedom Press melaporkan hasil temuan mereka atas kondisi media di Amerika. McQuail (2010, 170) menyebutkan bahwa laporan The Hutchins pemberitaan sensasional, komersialisme, dan muatan politik menjadi kritik atas isi media massa pada saat itu.

Kondsi tersebut membuat anggota dari The Hutchins Commission of Freedom Press terbagi kedalam dua kelompk pemikiran, satu kelompok yang meganut system libertarian dan satu kelompok lainnya yang meyakini bahwa dibutuhkannya bebrapa aturan-aturan dalam pers (Baran & Davis, 2012, 114). Kelompok libertarian tetap menginginkan system kebebasan sepenuhnya terhadap pers, mereka takut jika diberikan aturan-aturan dalam pers maka pemerintah akan mengontrol isi media. Namun, kelompok yang menginginkan adanya aturan menilai bahwa kebebasan yang tampa aturan, rentan ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok yang dominan dan kuat di dalam masyarakat. Sehingga kelompok yang lemah dan subordinat akan terpinggirkan dan menjadi ‘kambing hitam’. Keadaan yang terburuk adalah ketika munculnya konten-konten propaganda yang mengandung kebencian untuk mendulang simpati  untuk mendapatkan kekuasaan.

Kehawatiran dua kelompok dalam The Hutchins Commission berujung pada keputusan untuk mempercayakan para praktisi media untuk merumuskan suatu konsepsi dalam melayani kepentingan publik. Hasil dari rumusan tersebut akhirnya menemukan sebuah sistim baru yang dikenal sebagai The Social Responsibility Theory of the Press. Baran & Davis (2012, 115) menyebutkan bahwa teori ini menekankan bahwa media harus independen, objektif, dan akurat dalam melakukan pemberitaan, dan yang terpenting adalah isi media harus dapat mendidik dan membuat “Great Communities”.

Adapun untuk preposisi dari teori tersebut McQuail (2010, 171) menyebutkan bahwa:

  • Media memiliki kewajiban terhadap masyarakat, dan kepemilikan media adalah kepercayaan publik.
  • Pemberitaan pada media harus jujur, akurat, berimbang, objektif, dan relefan.
  • Media harus bebas, namun mengatur dirinya sendiri.
  • Media harus mengikuti kode etik dan mengikuti panduan prilaku professional.
  • Untuk keadaan tertenu, pemerintah dapat mengintervensi media dalam konteks menjaga kepentingan publik.

Untuk mengaplikasikan teori tersebut, maka dibutuhkan prinsip dasar. McQuail (dalam Baran & Davis, 2012) menjelaskan bahwa prinsip dasar dari social responsibility theory adalah:

  • Media harus menerima dan mematuhi kewajiban mereka kepada masyarakat.
  • Kewajiban terutama media yang harus dipenuhi adalah dengan memtapkan standar yang tinggi atau standar professional terkait informasi, kebenaran, akurasi, objektifitas, dan berimbang.
  • Dalam menerima dan menjalankan kewaiban tersebut, media harus dapat mengatur dirinya sendiri dalam ranah hukum dan kelembagaan yang mapan.
  • Media harus menghindari segala sesuatu – dalam hal ini konten media – yang mengarahkan kepada kriminalitas, kekerasan, ketidak tertiban umum, atau penghinaan terhadap grup minoritas.
  • Media secara keseluruhan harus bersifat plural dan merefleksian keberagaman serta memberikan kesempatan untuk mengungkapkan berbagai sudut pandang dan hak jawab.
  • Masyarakat dan publik, memiliki hak untuk mengharapkan standar yang tinggi dan intervensi dapat dibenarkan jika untuk mengamankan kepentingan umum.
  • Pewarta dan media professional harus memiliki keterbukaan, bertanggung jawab kepada masyarakat, serta kepada karyawan serta pasar.

Setelah berpuluh tahun atas keumunculan teori tersebut, mulai memunculkan pertnyaan apakah social responsibility theory adalah teori yang paling ideal atau tidak. Karena Baran & Davis (2012) menyatakan bahwa kualitas kehidupan masyarakat Amerika tidak lebih baik setelah kemunculan sistim media ini. Terlihat dari grup minoritas yang masih terdiskriminasi dan mengalami kekerasan, Merrill (dalam Yin, 2008) mempertanyakan independensi jurnalis saat menulis berita? Siapa yang memegang otoritas dalam bertanggung jawab? Bukankah jurnalis dibolehkan membuat pendapat atau penilaian pribadi saat menulis?.

Baran & Davis (2012, 121) menjabarkan masih ada beberapa kelemahan dalam teori ini, antara lain:

  • Terlalu optimis atas keinginan media untuk bertanggung jawab.
  • Terlalu optimis atas keinginan individu (jurnalis) untuk bertanggung jawab.
  • Mengesampingkan kekuatan dari ‘motivasi keuntungan’, serta kompetisi antar media.
  • Melegitimasi status quo.

Professionalism & Media Ethics

Bentuk lain dari respon atas kegagalan media masa, selain munculnya sistim Social responsibility, adalah dengan munculnya gagasan untuk membentuk profesionalisme dalam ranah jurnalistik. Aplikasi dari gagasan tersebut adalah dengan membentuk asosiasi yang bertugas untuk membentuk kode etik dan panduan praktis dalam menjalankan media.

Jauh sebelum laporan The Hutchins kode etik dalam jurnalistik sudah pernah dibentuk. Baran & Davis (2012, 109) menjelaskan bahwa pada tahun 1923, the American Society of Newspaper Editors (ASNE) telah membentuk kode etik pertama yang dijadikan sebuah standar professional yang disebut The Canons of Journalism. Laitila (dalam McQuail, 2010, 172) menyatakan bahwa pada saat yang sama panduan prilaku juga diperkenalkan di eropa, terutama di Perancis, Swedia, dan Findlandia.

Munculnya ide profesionalisme dalam media, diharapkan agar industry media dapat melindungi dirinya dari kritik masyarakat serta mencegah intervensi eksternal yang dapat mengurangi kemandirian media. Sehingga, konsep kode etik dan panduan praktis meluas ke suluruh belahan dunia. Hal ini membuat perbedaan kode etik antar negara, karena setiap negara memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang berbeda.

Litia (dalam McQuail, 2010, 173) meneliti beberapa poin yang sering muncul dalam kode etik antar dengara, antara lain :

  • Informasi yang dapat dipercaya.
  • Informasi yang dapat memberikan kejelasan.
  • Melindungi hak publik.
  • Bertanggungjawab dalam membentuk opini publik.
  • Standar dalam mengumpulkan dan menyajikan informasi.
  • Serta, menghargai integritas dari narasumber.

Meluas dan beragamnya kode etik membuat suatu masalah baru, dimana setiap organisasi media membuat panduan prilaku internal mereka yang terkadang bertabrakan dengan kode etik yang general dipergunakan. McQuail (2010, 174) berpendapat bahwa benturan antara kode etik dan pandan prilaku internal perusahaan dikarenakan untuk melindungi kepentingan internal media tersebut.

Oleh karena itu, Baran & Davis (2012, 111) merumuskan kekurangan dari konsep profesionalisme dalam jurnalisme, antara lain:

  • Profesionalisme, dalam semua bidang, enggan untuk menindentifikasi dan mengecam oknum yang melakukan pelanggaran standar profesi.
  • Standar profesi dapat terlalu abstak dan ambigu.
  • Berbeda dengan ranah hukum dan kedokteran, standar profesi jurnalisme tidak mensyaratkan untuk lulus pada training keprofesian dan mendapatkan lisensi.
  • Dalam industri media, pelanggaran standar profesi jarang menampakkan konsekuensi secara langsung.

 

Daftar Pustaka

Baran, S.J., Deniis, K., Devis. 2012. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and    Future (6th). Ed. Boston: USA.

McQuail, Denis. 2010. Mass Communication Theory (6th). Ed. London: SAGE Publication.

Yin, Jiafei. 2008. Beyond the Four Theories of the Press: A New Model for the Asian & the World Press. Journalism & Communiacation Monograph 10 (1), 3-62. DOI: 10.1177/152263790801000101


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s