Berita Sebagai Hasil Dari Konstruksi

Berita sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakan Indonesia saat ini khususnya di kota-kota besar. Hal ini dapat terlihat dari besarnya rating program-program berita di saluran TV nasional, ditambah dengan hadirnya dua saluran TV swasta nasional free to air yang mengkhususkan dirisebagai TV berita.

Namun, yang menjadi perhatian penulis dalam menulis artikel ini adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai berita itu sendiri. Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal dibalik pemberitaan, akan membuat masyarakan menjadi “santapan” pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu baik dari segi komersial, politik, hingga ideologi.

Berita sering didefinisikan sebagai laporan dari sebuah kejadian oleh para ahli. Definisi tersebut membuat khalayak lupa bahwa sebuah berita sebenarnya dibuat untuk memenuhi tujuan tertentu. Seperti yang diungkapkan oleh Palgunov bahwa,

“…… News should not be merely concerned with reporting such and such for a fact or event, it must pursue a definite purpose …. It should not simply report all fact and just any events …” (Kusumaningrat & Kusumaningrat, 2012, h. 32).

Dengan adanya tujuan dari pembuatan berita maka berita tersebut tidak lagi murni pelaporan apa yang ada di lapangan. Tujuan dari pembuatan berita tersebut secara umum dapat dilihat dari siapa pemilik media massa dan apa visi-misi pada media massa yang memuat berita tersebut (Tamburaka, 2012).

Tidak semua berita dapat menarik perhatian khalayak. Zaman dahulu berita dianggap sebagai sesuatu yang baru. Dengan demikian, semua berita akan menarik perhatian bila informasi yang dijadikan berita tersebut merupakan sesuatu yang baru (Mondry, 2008, h. 134). Tetapi kini kemenarikan berita dinilai dari beberapa hal yang disebut dengan nilai berita (news value). Secara umum berita dianggap bernilai jika berita tersebut memiliki nilai prominence, human interest, conflict/controversy, unusual, proximity.

Nilai berita tersebut bagi pandangan konstruksionis bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ada agen-agen yang membentuk nilai berita. Nilai berita disebut sebagai prosedur standar peristiwa apa yang layak disebarkan kepada khalayak (Eriyanto, 2011, h. 123). Dengan kata lain, nilai berita merupakan konstruksi dari wartawan dan media massa. Pendefinisian berita sebagai sebuah laporan dari suatu peristiwa membuat berita- berita yang muncul di media massa manapun biasa dianggap oleh khalayak sebagai cerminan dari realitas yang ada (mirror of reality).

Namun, pandangan konstruksionis justru melihat bahwa “The importance of this early work on routines, in sum, rests largely on its contribution to a view of news as a construction of reality, rather than a mirror of that reality” (Becker & Vlad, 2009, h. 59). Pendapat tersebut dikarenakan menurut pandangan konstruksionis, berita adalah hasil konstruksi sosial yang selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan atau media (Eriyanto, 2011, h. 29). Dengan demikian tidak mungkin suatu berita mencerminkan keadaan yang ada secara utuh.

Berita yang dianggap ideal adalah berita yang bebas dari opini wartawan yang pembuat berita. Namun, pandangan konstruksionis menilai bahwa berita tidak lepas dari opini karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif (Eriyanto, 2011, h. 31). Wartawan dalam melihat sebuah fakta akan menafsirkan fakta tersebut berdasarkan pandangannya sendiri. Pandangan wartawan dalam melihat sebuah fakta dapat dipengaruhi oleh field of experience yang dipengaruhi oleh ideologi yang dianut wartawan.

Teun A. van Dijk menyatakan bahwa “ideologies control more specific group attitudes and how personal mental models of journalists about news events control activities of news making, such as assignments, news gathering, interviews, news writing, editing and final make up ” (Dijk, 2009, h. 195). Sehingga Hal ini memungkinkan terjadinya perbedaan berita suatu peristiwa yang sama. Fenomena ini merupakan hal yang wajar karena adanya perbedaan nilai-nilai yang dianut oleh wartawan.

Dengan demikian, penulis mengharapkan agar masyarakat dapat lebih bijak dan cerdas dalam memilih berita yang disajikan media massa. Selain itu, masyarakat juga agar tidak terbawa pada arus pemberitaan yang disajikan media massa begitu saja. Semua berita sebaiknya di saring dan dicerna kebenarannya.

Sumber :

Becker, L. & Vlad, T. (2009). Journalism and Globalization. Dalam K. Wahl-Jorgensen, T. Hanitzsch (Ed.).
              The handbook of journalism studies(h, 341-357). New York : Routledge
Eriyanto. (2011). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta : LkiS
Kusumaningrat, H., & Kusumaningrat, P. (2012). Jurnalistik: Teori dan Praktik.
              Bandung : Remaja Rosdakarya
Mondry. (2008). Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor : Gahlia Indonesia
Tamburaka, A. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta : RajaGrafindo Persada
Van Dijk, T.A. (2009). News, Discourse, and Ideology. Dalam K. Wahl-Jorgensen, T. Hanitzsch (Ed.).
              The handbook of journalism studies (h, 191-204). New York : Routledge

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s