Kemelut Semenanjung Korea

Sama seperti Negara-Negara jajahan lainnya, Korea seusai peranga dunia ke II dibagi menjadi dua kekuasaan yang dikuasai Uni soviet dan Amerika. Pembagian kekuasaan ini yang kemudian secara resmi membentuk Rakyat Demokratik Republik Korea Utara dan Republik Korea, dua sisi Korea yang kini terbelah di 38 derajat lintang utara ini yang menjadi alasan perbatasan antara kedua negara sering disebut sebagai ‘38th parallel’. Secara resmi, bagian selatan dari Korea menjadi sebuah Negara bernama Korea Selatan pada 15 Agustus 1948 dan bagian utara dari Korea menjadi Negara Korea Utara pada 9 September 1948. Korea Selatan dan Korea Utara kemudian dipimpin dengan otoriter oleh masing-masing pemimpin.

Flags

Pada tanggal 25 juni 1950 militer Korea Utara menyeberangi perbatasan dan melakukan invasi ke Korea Selatan, ini yang menjadi pemicu perang Korea yang tidak berakhir hingga saat ini. Perang antara Korea Utara dan Korea Selatan ini didasari dengan alasan perbedaan ideologi dan isu perbatasan menjadi isu yang sangat sensitif antara kedua wilayah ini karena pembatas wilayah bukan dianggap sebagai perbatasan antar negara.

Situasi di Dewan Keamanan PBB saati itu sedang terjadi boikot pihak Soviet karena mendukung China untuk mengantikan Taiwan yang saat itu menjadi perwakilan, melihat situasi ini, AS memanfaatkannya dengan mencari dukungan dari PBB. Dukungan inilah yang membuat pasukan perdamaian PBB dan pasukan AS mendarat di Korea Selatan untuk memukul mundur pasukan Korea Utara dan Soviet yang saat itu terlebih dulu menyerang Korea Selatan. Melihat semakin dekatnya pasukan AS dari perbatasan Korea Utara dengan Cina, maka pihak pemerintah Cina merasa terancam dan mengirim sejumlah relawan non-People Liberation Army untuk ikut berperang di sana.

Perang tersebut berlangsung selama tiga tahun hingga 1953 dan berhenti dengan sendirinya tanpa adanya perjanjian. Jadi, bisa dikatakan sebenarnya tidak pernah ada perdamaian antara Korea Utara dengan Korea Selatan lebih dari 60 tahun. Namun demikian upaya perundingan perdamaian kedua Korea tersebut terus dilakukan walau tanpa hasil. Hal yang menjadi penghambat dari perundingan damai tersebut antara lain adalah pembangunan fasilitas nuklir Korea Utara. Disatu sisi Korea Selatan dan sekutu terdekatnya, Amerika, menganggap fasilitas nuklir itu menjadi ancaman perdamaian dunia. Disisi lain Korea Utara menganggap adalah hak bagi negaranya untuk membangun fasilitas nuklir.

Pada tahun 1964, Cina dengan sukses menguji bom nuklir pertamanya. Korea Utara mendekati Cina untuk mempelajari teknologi senjata nuklir. Namun pemerintah Cina tidak membalas keinginan saudaranya tersebut sehingga Korea Utara makin mempererat kerjasamanya dengan Moscow dan Kim Il Sung mulai berpikir untuk mengembangkan kemampuan rudal balistik sendiri.

Tahun 1965 ditandai dengan pendirian Akademi Militer Hamhung, dimana para tentara Korea Utara menerima pelatihan pengembangan rudal. Uni Soviet pada tahun ini juga mulai menyediakan bantuan secara meluas kepada Korea Utara dalam membangun pusat penelitian di Yongbyon. Fasilitas nuklir yang dikembangkan pertama kali oleh Korea Utara ini adalah reaktor nuklir model Uni Soviet yang dioperasikan untuk tujuan penelitian di Yongbyon, Korea Utara.

Soviet membantu Korea Utara untuk menjalankan reaktor nuklirnya yang hanya berdaya 5MW di tempat tersebut. Reaktor ini sangat kecil sehingga tidak menjadi perhatian negara-negara sekitar karena membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi reaktor tersebut untuk memproduksi plutonium yang cukup dan menjadi sebuah bom nuklir. Fasilitas nuklir ini juga dilaksanakan secara independen dan terfokus pada lingkaran bahan bakar nuklir (penyulingan bahan bakar nuklir dan perubahan).

Dengan adanya fasilitas nuklir di Yongbyon, Korea Utara memperoleh plutonium dan mulai menguasai teknologi nuklir yang mendorong Kim Il Sung memutuskan untuk membangun senjata nuklir. Bagi Korea Utara, senjata nuklir akan membuat Korea Utara lebih kuat dari Korea Selatan. Selain itu senjata nuklir dapat menangkal serangan AS dan memperkecil ketergantungan Korea Utara terhadap Uni Soviet dan Cina. Senjata nuklir juga memberikan jaminan keamanan bagi Korea Utara yang selama ini tidak ditawarkan oleh negara manapun dalam komunitas internasional. Lebih jauh lagi, dikarenakan Korea Utara menghadapi situasi keamanan yang lemah terutama sepanjang Perang Korea, pengembangan senjata nuklir menjadi sumber keamanan rezim bagi Kim Il Sung dan pemimpin-pemimpin berikutnya.

Hubungan kedua Korea mulai membaik terutama pada saat Kim Dae Jung menjabat sebagai presiden Korea Selatan (1997-2002). Kim Dae Jung membuat kebijakan yang disebut dengan sunshine policy. Kebijakan ini dibuat oleh Kim Dae Jung dengan tujuan untuk meningkatkan kepercayaan Pyongyang bahwa Seoul benar benar ingin mengadakan pendekatan melalui kerjasama dan pertukaran kunjungan antara dua negara. Hal itu terbukti dalam langkah langkah awal yang diambil oleh Korea Selatan untuk menunjukkan itikad baiknya terhadap Korea Utara, beberapa langkah yang penting yaitu :

Pertama, pemerintah memberikan kemudahan aktifitas inter – Korea dari sektor industri kecil dan menengah untuk secara bebas mengadakan hubungan perdagangan atau kejasama ekonomi, namun atas resiko sendiri, seperti yang dilakukan oleh perusahaan Hyundai melalui proyek turisme dan pariwisata ke Gunung Kumgang di Korea Utara. Kedua, melanjutkan proyek – proyek kerjasama berdasarkan prinsip timbal balik yang fleksibel, mengingat besarnya jurang perbedaan antara dua Korea atas kemampuan nasional secara menyeluruh. Ketiga, membantu tanpa syarat kelangkaan pangan di Korea Utara karena keprihatinan kemanusiaan. Dalam hal ini Korea Selatan mengharapkan Korea Utara mengizinkan pertemuan dari keluarga yang terpisah.

kim jong il and kim dae jung

Pada saat pemerintahan Kim Dae Jung ini sebuah langkah penting untuk hubungan kedua negara bersaudara ini terlaksana, yaitu terselenggaranya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Inter-Korea di tahun 2000. KTT Inter Korea itu juga tercapai deklarasi bersama yang direalisasikan dengan mengatur pertukaran kunjungan antar anggota keluarga yang terpisah.

Hubungan kedua Korea yang mulai membaik kembali memanas semenjak diangkatnya Presiden Lee Myung Bak (2003-2008). Lee Myung Bak memiliki pandangan dan sikap politik yang berbeda dari para pendahulunya dalam menilai dan menyikapi Korea Utara. Pada masa pemerintahannya, Lee Myung Bak menerapkan kebijakan bebas nuklir dan pintu terbuka 3000 terhadap Korea Utara yang berdasarkan pada hubungan timbal balik. Di bawah kebijakan baru, Korea Selatan akan menyediakan bantuan ekonomi bagi Korea Utara selama 1 dasawarsa untuk membantu meningkatkan pendapatan perkapita Korea Utara hingga 3000 dolar, namun dengan syarat Korea Utara harus melumpuhkan semua program nuklirnya. Dalam pandangan Lee Myung Bak, dengan mengambil sikap tegas terhadap Korea Utara merupakan kunci untuk mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea.

Lee Myun Bak

Kebijakan tersebut didasari akan ketakutan Korea Selatan dengan aktivitas pengembangan nuklir Korea Utara. Untuk mengantisipasi dan alasan menjaga keamanan negaranya Korea Selatan menjalin kerjasama militer Internasional salah satunya dengan Amerika. tahun 2008, militer Korea Selatan bergabung dalam prakarsa keamanan proliferasi atau Proliferation Security Initiative (PSI) yang disponsori Amerika Serikat. Melalui wewenang keanggotaan PSI ini, Korea Selatan berhak mencegat kapal-kapal Korea Utara yang diduga membawa bahan-bahan persenjataan nuklir dan rudal. Kebijakan PSI ini terpaksa ditempuh karena militer Korea Utara menolak untuk menghentikan pengembangan teknologi nuklir dan rudalnya.

Tahun 2009 latihan tahunan Ulchi Focus Lens (UFL) melibatkan sekitar 10.000 tentara AS dan berlangsung selama 12 hari. Latihan perang ULF yang disimulasi komputer tersebut bertujuan untuk menanggapi isu invasi. Korea Utara secara rutin mengecam pelatihan itu sebagai persiapan serangan, namun pihak Korea Selatan sendiri tidak terpengaruh dengan peringatan keras Korea Utara tersebut karena menurut mereka hal tersebut hanya bertujuan sebagai pertahan.

Menyusul ketegangan yang terus terjadi antara dua negara pada November 2010, Kementrian Penyatuan Korea Selatan secara resmi menyatakan bahwa ‘Sunshine Policy’ gagal, dan membawa kepada berakhirnya kebijakan tersebut. Hal ini kembali membawa kedua korea kepada masa suram mereka.

Pemakaman-Kim Jong Il

Pada tanggal 17 Desember 2011, Kin Jong-Il meninggal setelah menderita serangan jantung, dan putranya, Kim Jong-Un, diumumkan sebagai pengganti. Tanggal 1 Januari 2013, Kim Jong-Un menyampaikan pesan tahun baru melalui  siaran televisi, menyerukan untuk membina hubungan lebih baik dengan Korea Selatan. Tapi tidak ada respon yang jelas dari pihak Korea Selatan, dan pada bulan Februari 2013, Korea Utara melakukan uji coba nuklir ke-3, yang dikatakan dua kali lebih besar dibandingkan uji coba pada tahun 2009.

Kim Jong Un

 Pada April 2013, Korea Utara mengatakan bahwa mereka akan memulai fasilitas nuklir utamanya di Yongbyon, yang dikatakan akan meningkatkan kekuatan nuklir Korea Utara secara kualitas maupun kuantitas yang membuat semakin panasnya kondisi politik dan keamanan di semenanjung korea sehingga Korea Utara memperingatkan warga asing untuk keluar dari negaranya karena tidak bisa menjamin keselamatan warga asing.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s