Bentuk Pembicaraan Politik

Retorika Politik

Retorika merupakan seni komunikasi yang pertama kali dipakai oleh manusia. Selain itu retorika juga merupakan seni sekaligus teknik yang sering diaplikasikan dalam dunia politik. Retorika sendiri berasal dari bahasa Yunani rhetorica yang berarti seni berbicara. Pada awal kemunculannya retorika bersifat dua arah atau dialogis karena biasa digunakan untuk perdebatan – perdebatan di dalam ruangan.

Secara umum kajian retorika didefinisikan sebagai simbol kehidupan manusia. Menurut Littlejohn dalam Ariffin (2011:126) Retorika kemudian diperluas dengan mencakup segala cara manusia menggunakan simbol untuk mempengahruhi lingkungannya.

Perubahan retorika dari komunikasi dialogis ke komunikasi massa diawali oleh kaum Sophist yang menggunakan retorika sebagai alat dalam memperoleh kekuasaan dengan membina dan membentuk opini public. Kaum ini menggunakan retor pada pidato mereka dalam membangun opini publik.

Retorika persuasif negatif atau retorika politik yang dibawa oleh kaum Sophist ini mendapat kecaman. Walaupun terbukti bisa menggalang kekuasaan namun retorika semacam ini mencoreng kemurnian retorika dengan memasukkan kebohongan di dalamnya. Kebohongan ini bisa merusak moralitas publik yang menjadi sasaran mereka dalam meraih kekuasaan politik.

Karena keprihatinan akan fenomena retorika politik, bahkan Plato dalam Ariffin (2011) menyebut bahwa retorika persuasif negatif tersebut bisa menjadi racun yang merusak demokrasi. Hal ini pula yang membuat plato memperkenalkan model retorika yang dinamakan dialectical rhetoric.

Model retorika yang diusung oleh plato ini adalah retorika yang menjunjung tinggi kebenaran. Dalam model retorika ini seorang retor harus menjunjung tinggi asas – asas kebaikan, kejujuran, dan kebajikan dalam setiap orasinya baik secara eksplisit maupun implisit.

Selain retorika persuasive, tetorika deilektik, ada juga beberapa jenis retorika lainnya yang biasa dipakai terutama dalam ranah politik. Jenis lain retorika yang dikemukakan oleh Aristoteles ini an antara lain retorika dileberatif, retorika forensik, dan retorika demonstratif.

Retorika dileberatif adalah jenis retorika yang digunakan untuk mempengaruhi masyarakat dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Dalam retorika ini dijelaskan keuntungan dan kerugian bila suatu kebijakan dibuat oleh pemerintah dan bagaimana dampaknya.

Retorika jenis kedua yaitu retorika forensik adalah jenis retorika yang biasa digunakan dalam pengadilan. Retorika ini difokuskan untuk pembeciraan pada masa lalu yang akan berkaitan dengan keputusan pengadilan. Retorika ini diperlukan agar hakim bisa mengambil keputusan yang tepat terhadap suatu kasus.

Jenis retorika ketiga yang diungkapkan oleh Aristoteles adalah retorika demonstratif. Retorika ini adalah retorika yang dipersiapkan oleh seorang retor untuk memuji atau menghujat lawannya demi mempengaruhi pikiran masyarakat. Perbedaan retorika demonstratif dengan retorika persuasif adalah kejujuran yang tetap diutamakan dalam retorika demonstratif, tidak seperti retorika persuasif, yang membolehkan manipulasi atau kebohongan. Retorika jenis demonstratif ini adalah retorika yang paling sering dipakai di dalam perpolitikan.

Agitasi Politik

Agitasi politik berasal dari bahasa Yunani agitare yang berarti bergerak atau menggerakkan. Agitasi juga merupakan bentuk dari seni berkomunikasi yang tidak terlepas dari kegiatan perpolitikan. Menurut Herbert Blumer (1969) agitasi adalah kegiatan yang beroprasi untuk membangkitkan rakyat pada suatu gerakan terutama gerakan politik. Dengan demikian agitasi adalah cara untuk menggerakan massa baik secara lisan maupun tuisan dengan cara membangkitkan emosi khalayak.

Agitasi dimulai dengan cara membuat kontradiksi di masyarakat dan menggerakkan kahalayak untuk menentang kenyataan hidup masyarakat selama ini. Hal ini digunakan untuk menimbulkan kegelisahan di masyarakat, kemudian rakyat digerakan untuk mendukung gagasan baru untuk menciptakan keadaan yang baru.

Dalam Negara – Negara demokrasi sebagian besar agitasi ditolak karena sangat tercela. Hal ini karena agitasi bersifat negatif dengan caranya yang menggunakan hasuttan, ancaman, dan menggelisahkan sehingga membangkitkan rasa tidak puas dan memdorong adanya pemberontakan.

Propaganda Politik

Kata propaganda yang berasal dari bahasa latin propagare berarti menyemaikan tunas. Propaganda sendiri sebenarnya sudah lama diaplikasikan di bidang politik. Awalnya propaganda digunakan untuk bidang keagamaan katholik. Pada tahun 1962Paus Gregorius XV membentuk komisi cardinal yang dinamakan congregatio de propaganda fide untuk menumbuhkan keimanan kristiani.

Pengaruh propaganda dalam kegiatan politik sendiri secara intensif digunakan oleh kegiatan politik Hitler pada perang dunia II. Propaganda dilakukan Hitler untuk menyebar luaskan faham fasisme sekaligus memperluas area kekuasaan Nazi. Propaganda Nazi ini berkonotasi negative karena menggunakan kebohongan dan banyak memakan korban jiwa.

Di Negara komunis seperti soviet (sebelum pecah) kegiatan probaganda mendapat citra positif dan digunakan secara intensif. Menurut Lenin, propaganda adalah mengemukakan banyak gagasan atau pikiran sedikit orang. Propaganda lebih ditekankan untuk membentuk pikiran orang – orang melalui ceramah – ceramah yang jumlah khalayaknya terbatas.

Di Negara demokrasi, menurut Leonardo W.Dobb (1966) propaganda adalah suatu usaha individu atau indiviru – individu yang berkepentingan untuk membentuk sikap kelompok lain. Pembentukan sikap ini dilakukan dengan cara pemberian sugesti.

Sedangkan Jaques Ellul membagi propaganda menjadi dua tipe. Pertama, propaganda politik yang merupakan kegiatan yang dilakukan pemerintah, partai politik, dan kelompok kepentingan untuk mencapai tujuan politik. Kedua, propaganda sosiologis yang biasanya kurang terlihat dan berjangka lebih panjang dari propaganda politik. Propaganda sosiologis mengemukakan pesan – pesan suatu cara hidup, yang selanjutnya mempengaruhi setiap lembaga kehidupan.

Lobi Politik

Dari sekian banyak proses penyampaian pesan di ranah komunikasi politik. Istilah lobi politik termasuk salah satu yang paling sering kita dengar. Kita sering melihat di media massa bahwa beberapa siding di parlemen ditunda dalam pengambilan keputusan karena akan diadakan lobbying terlebih dahulu. Istilah lobi sebenarnya merupakan tempat untuk menunggu atau berbincang – bincang. Istilah ini kemudian dipakai dalam proses komunikasi politik untuk menunjukan bahwa sedang ada penyampaian pesan politik diantara para politikus yang berlangsung secara santai.

Kegiatan lobi politik adalah kegiatan informal yang dilakukan secara dialogis tatap muka antara para politikus. Hasil dari lobi politik ini lah yang kemudian dibawa kembali di rapat politik di parlemen yang bersifat lebih formal.

Dalam proses lobi politik, faktor  individu sangatlah penting. Kemampuan berargumen, kemampuan melihat situasi, penguasaan masalah, karisma, jabatan, dan kemampuan nonverbal haruslah kuat. Hal ini dikarenakan dalam proses lobi, para politikus akan saling mempengaruhi.

Menurut Nimmo (1999), karakteristik percakapan politik yang terjadi saat proses lobi politik antara lain koorientasi. Yaitu dimana setiap orang saing bertukar pandangan dan pendapat dari suatu masalah. Hal ini diperlukan kemampuan negosiasi agar bisa mempengaruhi karena suatu masalah memiliki dimensi isi dan dimensi hubungan yang memerlukan kesempatan.

Kampanye Politik

Kegiatan komunikasi politik dalam menyampaika pesan politik yang paling menarik perhatian adalah kampanye politik. Kegiatan kampanye politik akan dilakukan setiap akan dimulainya pemilihan umum. Kegiatan ini dikarenakan untuk memberikan kesempatan kepada politikus dan partai politik untuk merebut simpati rakyat dengan mensosialisasikan visi dan misi mereka di hadapan rakyat baik secara langsung maupun melalui media.

Kegiatan kampanye politik adalah kegiatan yang terorganisir dan masuk dalam jadwal agenda pemilihan umum. Oleh karena itu kampanye politik sebenarnya adalah acara yang formal, namun dibuat lebih santai agar bisa lebih interaktif dengan masyarakat.

Rogers dan Storey  (1987) mengungkapkan bahwa kampanye adalah serangkaian kegiatan komunikasi antar organisasi dengan tujuan menciptakan dampak tertentu terhadap khalayak pada periode tertentu. Dengan demikian jelas bahwa kampanye merupakan proses mempengaruhi khalayak dalam kurun waktu periode tertentu. Maksud periode tertentu disini adalah rentang dari suatu pemilihan umum ke pemilihan umum berikutnya.


One thought on “Bentuk Pembicaraan Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s