Agenda Setting Theory

Dalam praktik awalnya agenda setting merupakan teori yang diambil dari pemikiran bahwa media tidak mengatakan apa yang dipikirkan oleh khalayak, tapi mengatakan apa yang harus dipikirkan oleh khalayak. Jadi media akan memilih isu – isu yang bagi media dianggap penting dari sekian banyak isu di masyarakat, dan isu tersebutlah yang harus menjadi pikiran utama masyarakat.

McQuail dalam Tamburaka (2012: 22) menyatakan bahwa definisi agenda setting adalah “Process by which relative attention given to items or issues in news coverage influences the rank order of public awareness of issues and attribution of significance. As an extension, effects on public policy may occur.

Dari pengertian McQuail jelas bahwa tidak semua perhatian maysarakat diarahkan ke semua isu. Tapi ada tingkatan isu yang relative lebih banyak respon dari masyarakat secara sadar. Isu yang digirin media ini memungkinkan untuk terbentuknya sebuah kebijakan.

Dalam agenda setting dikenal istilah konstruksi realitas. Dalam mengkonstruksi realitas yang ada dimasyarakat maka media menggunakan empat tahapan. Menyiapkan materi konstruksi, menyebarkan konstruksi, pembentukan konstruksi, dan tahap konfirmasi.

Tahap menyampaikan materi konstruksi merupakan tugas redaksi media massa. Pada tahap ini isu yang biasa dipilih yang sensitive, sensualitas, atau kenerian. Dalam tahap ini juga ada tiga hal yang menentukan konstruks yaitu; keberpihakan media massa terhadap kapitalitas, keberpihakan semu media massa terhadap masyarakat, dan keberpihakan media massa terhadap kepentingan umum.

Tahap menyebarkan konstruksi setiap media memiliki caranya tersendiri. Namun prinsip utama dari penyebaran konstruksi ini adalah real time. Biasanya model konstruksi yang dipakai media massa adalah model satu arah. Model ini dimana media hanya menyodorkan satu informasi sehingga khalayak tidak memiliki pilihan lain kecuali mengkonsumsinya.

Selanjutnya tahap pembangunan konstruksi. Pada tahap ini media massa membangun citra suatu berita menjadi dua bentuk, good news, dan bad news. Dalam kedua bentuk ini, media akan memberika kesan lebih kepada objek pemberitaan. Kesan lebih baik dari sebenarnya atau lebih buruk dari sebenarnya.

Terakhir tahap konfirmasi. Pada tahap ini berarti bahwa media massa dan khalayak mengeluarkan argumentasi terhadap bentuk pemberitaan dari berita yang sudah memasuki tahap konstruksi. Bagi media tahapan ini penting untuk menguatkan serta membenarkan berita yang telah dikonstruksinya. Sedangkan bagi masyarakan penting untuk menjelaskan kenapa dia “merasa” menjadi bagian dari pemberitaan tersebut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s