Kesempatan dalam Kesempitan

Saya teringat kejadian suatu pagi di saat masih SMA. Pagi itu adalah pagi yang seperti pagi – pagi biasanya di kota Jakarta. Macet, dan semua orang sudah terburu – buru untuk ke tempat beraktivitas agar tidak terlambat. Jalan disekolah saya SMA merupakan jalur utama menuju jalan protokol di Jakarta, wajar jika kemacetan dan kecelakaan kecil sering terjadi. Terlihat seorang ayah mengantar anak gadisnya yang merupakan adik kelas saya berhenti di seberang gerbang sekolah. Anak tersebut turun dari motornya dan mencium tangan sang ayah.

Namun hal yang tidak diinginkan terjadi. Anak gadis tersebut terserempet sebuah mobil mewah saat hendak menyeberang. Suasana sekitar berubah seketika menjadi kepanikan. Sang ayah turun dari motor dan menghampiri anaknya. Guru yang sedang berjaga di gerbang sekolah serta petugas keamanan sekolah juga ikut menghampiri siswi sekolah kami tersebut.

Ironisnya, setelah menghampiri sang anak ayah tersebut tidak segera menolong anaknya. Sang ayah malah menuju kearah sang pengendara mobil tersebut. Perdebatan pun dimulai, sang pengendara mobil selain karena terburu – buru dan tidak ingin terlibat dengan pihak berwajib, ia rela menanggung biaya pengobatan anak tersebut yang sebenarnya hanya menderita lecet di dengkul dan kakinya.

Anak tersebut langsung dilarikan ke Unit Kesehatan Sekolah untuk mendapat pertolongan. Anehnya, sang ayah tetap ngotot meminta ganti rugi biaya pengobatan. Sang pengendara mobil telah memberikan sejumlah uang kepada ayah anak tersebut. Tetapi ayah dari anak tersebut masih merasa kurang dan meminta sejumlah uanag yang sebenarnya tidak rasional kepada pengendara tersebut.

Dalam situasi panic dan terburu – buru pengendara itupun memberikan sejumlah uang yang diminta ayah dari siswi sekolah kami yang baru saja di serempet oleh mobilnya. Sesuatu yang unik terjadi saat pengendara mobil tersebut memberikan uang dan meninggalkan lokasi, tetapi sang ayah tidaklah menengok keadaan sang putri yang sedang dirawat di Unit Kesehatan Sekolah.

Dari kejadian tersebut saya mendapatkan sebuah kejanggalan dan sebuah relalita di kota Jakarta. Setiap orang selalu memanfaatkan situasi demi mendapatkan uang. Walaupun dengan cara yang sangat tidak wajar, dan sang ayah rela ‘menjual’ penderitaan sang anak demi sejumlah uang yang sebenarnya tidaklah sebanding dengan perasaan sang anak.

Tidakkah sang ayah berfikir bagaimana perasaan sang anak yang baru saja kecelakaan tetapi sang ayah tidak memikirkan kondisi sang anak, melainkan berapa memikirkan uang yang bisa ia dapatkan? Tidakkah sang ayah berfikir pandangan orang lain dan teman – teman sang anak yang melihat kejadian tersebut? Tidakkah sang ayah bergikir betapa malunya sang anak jika temannya mengejek prilaku ayahnya?

Uang memang membuat mata setiap orang menjadi buta, bahkan mata orang tua sekalipun. Memang tidak semua orang tua begitu, tetapi kisah ini adalah realita yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua bagaimana seharusnya kita bertindak. Segala sesuatu memang membutuhkan uang, tetapi uang tidak bisa membeli semua hal terutama perasaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s