Cinta atau Obsesi

Teringat akan kisah seorang sahabat yang mempunyai cinta yang luar biasa menceritakan keagungan cintanya kepada saya. Waktu itu dia tidak seperti biasanya. Sehari – hari dia adalah pribadi yang ceria, murah senyum, dan selalu membawa energi positive pada lingkungannya. Tapi kali ini dia tampak berbeda.

Melihat keanehan dari dirinya saya menghampiri dia dan menanyakan apa penyebab dirinya tampak begitu tidak semangat, dan sangat berbeda dari biasanya. Saya menghampirinya mencoba melakukan penetrasi ke dalam zona pribadi miliknya. Namun dirinya benar – benar menjadi sangat tertutup.

Alhasil, prinsip bisnis orang Sumatera Barat saya lancarkan. Seperti pepatah Sumatera Barat dalam memecahkan masalah harus melakukan hal yang dalam bahasa minang disebut “Duduak Baselo Makan Basamo”, atau dalam bisnis biasa disebut negosiasi meja makan. Saya akhirnya mengajak sahabat yang luar biasa tersebut ke kantin, dan ternyata berhasil. Sahabat tersebut menceritakan penyebab kemurungan dirinya kepada saya.

Masalah sahabat tersebut adalah kegalauan akibat cinta. Sahabat tersebut menceritakan bahwa dirinya sedang menghadapi masalah dengan perasaan cintanya kepada seseorang yang ia cintai namun tidak ada respon dari orang tersebut akan cinta sahabat yang luar biasa ini. Padahal, sahabat saya ini sudah cukup lama memendam perasaannya.

Setahun lebih memendam cinta kepada seseorang, namun tidak ada tanggapan memang bukanlah sesuatu yang mudah. Saat itu kami masih SMA kelas XII, sebentar lagi kami akan lulus dari SMA. Sahabat ini bingung apa yang harus ia lakukan. Menyatakan cintanya atau diam tetap memendam perasaan tersebut.

Mendengar kisah sahabat tersebut saya jadi mengerti betapa besar perasaan cintanya kepada orang tersebut. Namun dia tetap harus menentukan pilihannya tidak ada beban saat Ujian Nasional agar dan tidak ada penyesalan saat lulus. Sepahit apapun jalan yang ia ambil haruslah diterima dengan lapang dada.

Saya memberikan pandangan kepadanya bahwa setiap pilihannya memiliki sisi positif dan negetif. Jika ia memilih menyatakan cintanya ia akan merasa lebih tenang. Tetapi ia harus bersiap dengan hasil terburuk, jika ia ditolak sahabat ini bisa saja menjadi lebih stress. Hal ini bisa menganggu pikiran dan emosi saat Ujian Nasional. Namun jika diterima, sahabat ini tidak boleh lupa untuk tetap berkonsentrasi dan harus menjadikan kebahagian itu sebagai motivasi untuk melangkah bersama ke Perguruan Tinggi.

Pilihan kedua jika ia tetap memendam perasaannya, tantu ia akan menjadi pribadi yang akan lebih tertutup dan menganggu kehidupan sehari – hari dirinya. Bahkan dapat saya jamin sahabat tersebut tidak siap menghadapi Ujian Nasional yang sudah di depan mata. Kecuali, dia mau menjadikan perasaan tersebut sebagai motivasi hidupnya.

Selain kedua pilihan tersebut saya mengajukan alternative lain, yaitu mencoba melupakan dan beralih ke hal yang ia sukai. Misalnya, berkumpul bersama sahabat – sahabat dan saling membuka diri. Ataupun belajar bersama yang diharapkan bisa melupakan atau setidaknya mengalihkan perasaannya sejenak.

Diakhir percakapan saya berkata kepada sahabat yang luar biasa tersebut. “Cinta memang dianugerahkan Tuhan kepada manusia agar terciptanya kedamaian dan ketentraman dalam diri manusia. Jika cinta membuat manusia menjadi bimbang, saatnya kita memikirkan apakah perasaan tersebut adalah cinta atau sebuah obsesi belaka”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s